- Jumlah angkatan kerja berdasarkan Survei Angkatan Kerja Nasional (Sakernas) pada Mei 2026 sebanyak 155,41 juta orang, naik 0,497 juta orang dibanding Februari 2026. Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja (TPAK) sebesar 70,57 persen, naik sebesar 0,01 persen poin dibanding Februari 2026.
- Penduduk bekerja pada Mei 2026 sebanyak 148,19 juta orang, naik 0,522 juta orang dari Februari 2026. Lapangan usaha dengan distribusi penduduk bekerja yang terbesar adalah Pertanian, Kehutanan, dan Perikanan sebanyak 42,60 juta orang dengan distribusi 28,75 persen.
- Pada Mei 2026, penduduk bekerja pada kegiatan formal berdasarkan status pekerjaan sebanyak 60,31 juta orang (40,70 persen), naik 0,12 persen poin dibanding Februari 2026.
- Pada Mei 2026, tingkat setengah pengangguran sebesar 7,28 persen naik sebesar 0,01 persen poin, sementara tingkat pekerja paruh waktu sebesar 25,93 persen turun 0,04 persen poin dibanding Februari 2026.
- Jumlah pekerja komuter pada Mei 2026 sebesar 7,74 juta orang, bertambah 0,554 juta orang dibanding Februari 2026.
- Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) pada Mei 2026 sebesar 4,65 persen, turun 0,03 persen poin dibanding Februari 2026.
MEMBACA EKONOMI
Blog pengajaran dan fenomena ekonomi sekitar
Minggu, Oktober 04, 2026
Ketenagakerjaan Indonesia Mei 2026
Selasa, September 22, 2026
MEKANISME HUBUNGAN PASAR KEUANGAN
MEKANISME PASAR KEUANGAN: Hubungan Ms, Pb, dan i
- Ms = Jumlah Uang Beredar (Money Supply)
- Pb = Harga Obligasi (Price of Bonds)
- i = Suku Bunga / Imbal Hasil (Interest Rate / Yield)
- Mengapa Pb turun (Harga Obligasi Turun)?Sesuai hukum permintaan dan penawaran, ketika bank sentral membanjiri pasar dengan obligasi baru, terjadi kelebihan penawaran (excess supply) obligasi. Agar obligasi tersebut laku terjual di tengah pasokan yang melimpah, harganya harus diturunkan.
- Mengapa Harga Obligasi Turun memicu Suku Bunga Naik (i naik)?Obligasi memiliki nilai kupon (bunga tetap) yang nominalnya sudah tertera sejak awal. Ketika harga beli obligasi di pasar turun, keuntungan riil atau tingkat pengembalian (yield) yang didapat investor secara otomatis menjadi lebih tinggi.
- Analogi Sederhana:Anda membeli obligasi dengan Nilai Nominal Rp1.000.000 yang memberikan kupon tetap Rp50.000 per tahun.
- Jika dibeli di harga normal (Rp1.000.000), maka suku bunga riil Anda adalah 5% (didapat dari Rp50.000 / Rp1.000.000).
- Karena bank sentral menjual massal, harga obligasi jatuh menjadi Rp800.000 (kupon tetap Rp50.000).
- Jika Anda membeli di harga diskon ini, suku bunga riil (yield) Anda naik menjadi 6,25% (didapat dari Rp50.000 / Rp800.000). Penurunan harga obligasi inilah yang mencerminkan kenaikan suku bunga di pasar.
- Mengapa Ms turun Memicu Penjualan Obligasi oleh Masyarakat?Ketika bank sentral menarik uang dari sistem perekonomian (Ms turun), masyarakat dan bank-bank umum kekurangan likuiditas (uang tunai). Untuk mendapatkan kembali uang tunai demi keperluan transaksi sehari-hari atau cadangan wajib, masyarakat dan institusi keuangan berbondong-bondong menjual aset mereka yang paling likuid setelah uang, yaitu obligasi.
- Dampak Berantainya:Aksi jual obligasi secara serentak oleh masyarakat ini membuat pasar obligasi kembali mengalami kelebihan penawaran, sehingga harga obligasi semakin jatuh (Pb turun). Agar investor mau mengorbankan uang tunainya yang sedang langka untuk membeli obligasi tersebut, penerbit obligasi atau pasar harus menawarkan imbal hasil atau suku bunga yang lebih tinggi (i naik) sebagai kompensasi atas hilangnya likuiditas.
- Pb = Harga obligasi saat ini (Price of Bond)
- F = Nilai nominal obligasi saat jatuh tempo (Face Value)
- i = Suku bunga pasar / tingkat pengembalian (Yield to Maturity)
- n = Jangka waktu hingga jatuh tempo (tahun)
- ^ = Simbol pangkat matematika
- Jika suku bunga (i) NAIK, nilai pembagi (1 + i)^n menjadi BESAR, sehingga harga obligasi (Pb) pasti TURUN.
- Jika suku bunga (i) TURUN, nilai pembagi (1 + i)^n menjadi KECIL, sehingga harga obligasi (Pb) pasti NAIK.
- C = Nilai kupon tetap per tahun
Minggu, September 13, 2026
Distribusi Simpanan menurut LPS Per Desember 2025
POSISI DESEMBER 2025
Distribusi Rekening Simpanan (Rekening)
Konsentrasi nominal simpanan terus meningkat
Kelompok saldo | 2014 | 2024 | 2025 | Perubahan 2014–2025 |
≤Rp100 juta | 14,8% | 12,5% | 11,3% | turun 3,5 poin persentase |
>Rp100 juta–Rp1 miliar | 22,4% | 20,4% | 18,5% | turun 3,9 poin persentase |
>Rp1 miliar | 62,8% | 67,1% | 70,2% | naik 7,4 poin persentase |
Struktur tersebut menunjukkan pergeseran penguasaan simpanan ke kelompok rekening bernilai besar. Pada 2014, rekening dengan saldo di atas Rp1 miliar menguasai 62,8% total simpanan. Proporsinya meningkat menjadi 67,1% pada 2024 dan 70,2% pada 2025. Sebaliknya, bagian kelompok saldo maksimal Rp100 juta menyusut dari 14,8% menjadi 11,3%.
Perubahan ini tidak berarti nominal simpanan kelompok kecil turun. Nominalnya justru meningkat dari Rp617,49 triliun pada 2014 menjadi Rp1.144,91 triliun pada 2025. Namun, pertumbuhannya lebih lambat daripada pertumbuhan simpanan kelompok besar sehingga porsinya terhadap total simpanan terus menyusut.
Dengan demikian, persoalan utamanya bukan penurunan nominal secara absolut, melainkan perubahan distribusi relatif yang semakin terkonsentrasi pada rekening bernilai besar.
Rata-rata saldo menunjukkan polarisasi
Kel. saldo | 2014 | 2024 | 2025 | Perubahan 2014 - 2025 |
≤Rp100 juta | Rp3,93 juta | Rp1,84 juta | Rp1,74 juta | turun 55,7%. |
>Rp5 miliar | Rp23,56 miliar | Rp32,63 miliar | Rp37,51 miliar | naik 59,2% |
Rata-rata saldo rekening maksimal Rp100 juta turun dari Rp3,93 juta menjadi Rp1,74 juta. Pada saat yang sama, rata-rata saldo kelompok di atas Rp5 miliar meningkat dari Rp23,56 miliar menjadi Rp37,51 miliar.
Perbedaan arahnya memperlihatkan polarisasi:
- jumlah rekening kecil berkembang sangat cepat, tetapi rata-rata saldo setiap rekening semakin rendah;
- jumlah rekening besar relatif sangat sedikit, tetapi rata-rata saldonya semakin tinggi;
- kenaikan total simpanan tidak tersebar secara proporsional pada seluruh kelompok rekening.
Namun, penurunan rata-rata kelompok bawah tidak otomatis berarti setiap nasabah menjadi lebih miskin. Angka tersebut juga dapat dipengaruhi oleh pembukaan rekening baru bersaldo kecil, rekening bantuan sosial, rekening pelajar, rekening digital, dan kepemilikan beberapa rekening oleh satu orang.
Pertumbuhan 2024–2025 sangat terkonsentrasi
Indikator | 2024 | 2025 | Pertumbuhan |
Total simpanan | Rp8.873,13 T | Rp10.088,62 T | 13,7% |
Simpanan ≤Rp100 juta | Rp1.106,95 T | Rp1.144,91 T | 3,4% |
Simpanan >Rp5 miliar | Rp4.714,38 T | Rp5.787,42 T | 22,8% |
Total simpanan bertambah sebesar:
Rp10.088,62T−Rp8.873,13T=Rp1.215,49T
Tambahan simpanan pada kelompok di atas Rp5 miliar mencapai:
Rp5.787,42T−Rp4.714,38T=Rp1.073,04T
Kontribusinya terhadap kenaikan total simpanan adalah:
(Rp1.073,04T / Rp1.215,49T) ×100%=88,3%
Artinya, sekitar 88,3% kenaikan nominal simpanan selama 2024–2025 berasal dari kelompok rekening di atas Rp5 miliar. Sementara itu, kontribusi kelompok maksimal Rp100 juta hanya sekitar Rp37,96 triliun atau 3,1% dari tambahan total simpanan.
Sabtu, September 12, 2026
Pertumbuhan Ekonomi 2020-2025, 4 Negara Utama dan Indonesia
1. Angka utama dalam grafik
| Negara/ kawasan | Pertumbuhan 2021 | Pertumbuhan 2025 | Pola utama |
|---|---|---|---|
| Amerika Serikat | 6,1% | 2,1% | Pemulihan kuat, lalu kembali moderat |
| Tiongkok | 8,6% | 5,0% | Pemulihan sangat tinggi, kemudian melambat |
| Uni Eropa | 6,4% | 1,5% | Pemulihan kuat, tetapi melemah |
| Jepang | 3,6% | 1,1% | Pemulihan paling terbatas |
| Indonesia | 3,7% | 5,11% | Pemulihan lebih bertahap dan relatif stabil |
2. Tahun 2020: guncangan pandemi
Sebagian besar perekonomian mengalami kontraksi pada 2020 karena:
- pembatasan mobilitas;
- berhentinya sebagian kegiatan produksi;
- penurunan konsumsi dan investasi;
- terganggunya perdagangan dan rantai pasok;
- penurunan kegiatan pariwisata dan transportasi.
Secara makroekonomi:
Tiongkok berbeda karena masih mencatat pertumbuhan positif, meskipun jauh lebih rendah dibandingkan pertumbuhan normalnya. Hal ini berkaitan dengan penanganan awal pandemi dan pemulihan produksi yang relatif lebih cepat.
3. Tahun 2021: pertumbuhan melonjak
Pada 2021, hampir semua negara mengalami pemulihan berbentuk rebound. Amerika Serikat tumbuh 6,1%, Tiongkok 8,6%, Uni Eropa 6,4%, Jepang 3,6%, dan Indonesia 3,7%.
Pertumbuhan tinggi tersebut didorong oleh:
- pembukaan kembali kegiatan ekonomi;
- pemulihan konsumsi masyarakat;
- stimulus fiskal;
- kebijakan moneter longgar;
- pemulihan ekspor dan investasi;
- basis PDB 2020 yang sangat rendah.
Efek basis rendah
Pertumbuhan tinggi pada 2021 tidak seluruhnya berarti kapasitas produksi baru meningkat luar biasa. Sebagiannya merupakan pemulihan dari kontraksi 2020.
Contoh:
Jika turun 5% pada 2020:
Kemudian tumbuh 6% pada 2021:
Pertumbuhan 6% terlihat tinggi, tetapi tingkat PDB hanya sedikit lebih tinggi daripada posisi sebelum krisis.
Jadi, tingkat pertumbuhan harus dibaca bersama tingkat PDB. Pertumbuhan tinggi setelah krisis dapat mencerminkan pemulihan, bukan sepenuhnya ekspansi baru.
4. Tahun 2022–2025: normalisasi dan perbedaan jalur pertumbuhan
Setelah lonjakan 2021, pertumbuhan sebagian besar negara kembali melambat. Hal ini disebut normalisasi karena efek pembukaan kembali ekonomi dan basis rendah mulai menghilang.
Amerika Serikat: 2,1%
Pertumbuhan kembali menuju kisaran moderat yang umum bagi negara maju. Perlambatan juga berhubungan dengan pengetatan kebijakan moneter untuk mengendalikan inflasi.
Artinya, suku bunga tinggi menekan investasi dan konsumsi yang bergantung pada kredit.
Tiongkok: 5,0%
Tiongkok tetap tumbuh lebih cepat daripada negara maju, tetapi lebih lambat dibandingkan 8,6% pada 2021. Ini menunjukkan perlambatan struktural, bukan kontraksi.
Faktor yang dapat menjelaskannya antara lain:
- masalah sektor properti;
- melemahnya permintaan domestik;
- pertumbuhan penduduk usia kerja yang melambat;
- perubahan struktur dari investasi menuju konsumsi;
- tekanan perdagangan global.
Uni Eropa: 1,5%
Pertumbuhan Uni Eropa relatif rendah. Kawasan ini menghadapi:
- dampak kenaikan harga energi;
- lemahnya permintaan industri;
- tingginya biaya pembiayaan;
- perbedaan kinerja antarnegara anggota;
- tekanan geopolitik.
Jepang: 1,1%
Pertumbuhan Jepang merupakan yang terendah dalam grafik. Pertumbuhan rendah dapat dikaitkan dengan:
- penuaan penduduk;
- penyusutan angkatan kerja;
- lemahnya permintaan domestik;
- pertumbuhan produktivitas yang terbatas.
Namun, pertumbuhan total yang rendah belum otomatis berarti pendapatan per kapita juga turun. Jika jumlah penduduk menurun, pertumbuhan PDB per kapita dapat lebih tinggi daripada pertumbuhan PDB total.
Indonesia: 5,11%
Indonesia menunjukkan pemulihan yang lebih bertahap. Setelah tumbuh 3,7% pada 2021, pertumbuhan kemudian berada sekitar 5%.
Pertumbuhan tersebut ditopang oleh:
- konsumsi rumah tangga;
- investasi;
- ekspor komoditas;
- belanja pemerintah;
- pemulihan mobilitas dan sektor jasa.
Dibandingkan negara maju, pertumbuhan Indonesia lebih tinggi karena Indonesia masih berada dalam proses pembangunan dan mempunyai ruang lebih besar untuk:
- akumulasi modal;
- urbanisasi;
- peningkatan produktivitas;
- transformasi struktural;
- perluasan pasar domestik.
5. Mengapa Indonesia tumbuh lebih tinggi, tetapi belum lebih kaya?
Pertumbuhan ekonomi adalah laju perubahan output, bukan tingkat pendapatan.
Analogi sederhananya:
Indonesia berlari lebih cepat, tetapi memulai dari posisi pendapatan per kapita yang lebih rendah. Amerika Serikat berlari lebih lambat, tetapi telah berada jauh di depan.
Misalnya:
| Negara | PDB per kapita awal | Pertumbuhan |
|---|---|---|
| A | USD5.000 | 5% |
| B | USD50.000 | 2% |
Setelah satu tahun:
Negara A tumbuh lebih cepat, tetapi selisih pendapatan per kapitanya masih sangat besar.
6. Apakah pertumbuhan Indonesia 5,11% sudah berkualitas?
Belum dapat disimpulkan hanya dari angka tersebut. Kualitas pertumbuhan perlu dinilai melalui:
- penciptaan pekerjaan;
- penurunan kemiskinan;
- pemerataan pendapatan;
- pertumbuhan upah riil;
- produktivitas;
- transformasi menuju sektor bernilai tambah tinggi;
- keberlanjutan lingkungan.
Pertumbuhan 5,11% dapat dinilai lebih berkualitas apabila mampu:
Sebaliknya, pertumbuhan dapat kurang inklusif apabila hanya terkonsentrasi pada sektor padat modal dan wilayah tertentu.
Kesimpulan utama
Grafik menunjukkan tiga tahap perkembangan:
- 2020: kontraksi akibat pandemi.
- 2021: pemulihan tinggi karena pembukaan ekonomi dan efek basis rendah.
- 2022–2025: normalisasi, ketika setiap negara kembali menuju jalur pertumbuhannya masing-masing.
“Grafik ini tidak hanya menunjukkan siapa yang tumbuh paling cepat, tetapi juga memperlihatkan perbedaan daya tahan dan struktur ekonomi. Indonesia relatif stabil di sekitar 5%, sementara Amerika Serikat, Uni Eropa, dan Jepang kembali pada pertumbuhan moderat. Tiongkok masih tumbuh tinggi, tetapi menunjukkan kecenderungan perlambatan struktural.”
https://tradingeconomics.com/united-states/full-year-gdp-growth#



