Tampilkan postingan dengan label inflasi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label inflasi. Tampilkan semua postingan

Selasa, November 01, 2022

Kondisi Inflasi (IHK) Bulan Oktober 2022

 

Sumber: 

https://www.bps.go.id/pressrelease/2022/11/01/1866/inflasi-year-on-year--y-on-y--pada-oktober-2022-sebesar-5-71-persen--inflasi-tertinggi-terjadi-di-tanjung-selor-sebesar-9-11-persen-.html

Senin, Mei 30, 2022

Harga Minyak Goreng dan Inflasi (April 2022)

 


  • Minyak goreng pada bulan April 2022 mengalami inflasi sebesar 17,02% (mtm), meningkat signifikan dari realisasi bulan sebelumnya yang inflasi sebesar 3,99% % (mtm). 
  • Langkah Pemerintah untuk menjamin ketersediaan minyak goreng melalui Permendag No. 11 Tahun 2022 yang mengatur mengenai penetapan HET hanya untuk minyak goreng jenis curah sebesar Rp14.000/liter atau 15.500/kg dan harga minyak goreng kemasan mengikuti harga keekonomian, telah mendorong peningkatan rerata harga minyak goreng yang lebih tinggi sepanjang April 2022. 
  • Harga internasional CPO yang masih tinggi dan peningkatan permintaan pada masa HBKN juga turut meningkatkan tekanan inflasi minyak goreng. 
  • Meski Pemerintah telah menetapkan HET Rp14.000/kg untuk minyak goreng curah dan disertai dengan skema subsidi terhadap selisihnya dengan harga keekonomian minyak goreng, namun harga minyak goreng curah masih tetap tinggi. 
  • Upaya penguatan pengawasan distribusi minyak goreng curah dan kebijakan pelarangan penyaluran minyak goreng curah bagi industri menengah dan besar, termasuk industri pengemas masih belum dapat mendorong penurunan harga minyak goreng curah. Namun demikian, kebijakan untuk melepas HET bagi minyak goreng kemasan mampu meningkatkan pasokan minyak goreng kemasan di pasaran. 
  • Adapun kebijakan pelarangan ekspor CPO yang diberlakukan pada akhir April 2022, masih belum tercermin pada pergerakan harga bulan laporan. Dengan perkembangan tersebut, berdasarkan data PIHPS harga rerata minyak goreng bulanan terpantau meningkat menjadi Rp23.344/kg pada periode laporan, dibandingkan bulan sebelumnya yang sebesar Rp19.196/kg. 
  • Berdasarkan data EWS Kemendag, kenaikan harga minyak goreng terutama terjadi pada minyak goreng kemasan baik sederhana maupun premium yaitu meningkat sekitar 21% hingga 22% (mtm), sementara peningkatan harga pada minyak goreng curah mencapai 9,6% (mtm). 
  • Secara tahunan, komoditas minyak goreng tercatat mengalami inflasi sebesar 45,50% (yoy) atau lebih tinggi dari periode sebelumnya yakni 25,82% (yoy)
Sumber: https://www.bi.go.id/id/publikasi/laporan/Pages/Analisis-Inflasi-TPIP-April-2022.aspx

Harga BBM dan Inflasi (April 2022)

 



Sumber: https://www.bi.go.id/id/publikasi/laporan/Pages/Analisis-Inflasi-TPIP-April-2022.aspx

Selasa, November 18, 2008

Inflasi 5 Presiden

Presiden boleh berganti, kabinet silakan dicari, tapi kestabilan ekonomi harus tetap menjadi prioritas bangsa yang mandiri. Salah satu indikator untuk membaca kestabilan makroekonomi suatu negara adalah dengan melihat kestabilan harga secara umum.

Indikator yang umum digunakan untuk melihat kenaikan harga, adalah Indeks Harga Konsumen (IHK). Kenaikan IHK itulah yang sering digunakan
dan dipublikasikan dengan istilah populer Inflasi.

Dulu ada seorang menteri penerangan yang tiap bulan rutin membacakan perkembangan harga-harga barang, dan karena hanya ada satu televisi, maka kita sering mendengarnya, sekarang sebenarnya juga dilakukan oleh BP
S, tapi luput dari perhatian kita, karena beragam pemberitaan media massa.

Dari perjalanan sejarah yang telah kita lalui, mulai dari bulan Januari 1979 sampai Oktober 2008, inilah kilasan kenaikan secara rata-rata tiap bulan. Gambar ber
ikut menunjukkan kenaikan harga barang-barang yang kita konsumsi, mulai jaman Soeharto (Data mulai Januari 1979) sampai era Susilo Bambang Y., Cara membaca, contoh Habibie 1.76, artinya, pada masa itu, kenaikan harga tiap bulan secara rata-rata adalah 1,76 persen, atau dapat juga dibaca bahwa kekayaan atau daya beli kita, tiap bulan berkurang 1,76 persen!!!



Minggu, Januari 06, 2008

Bencana dan uji Inflasi

Dan Dia menancapkan gunung-gunung di bumi
supaya bumi itu tidak goncang bersama kamu,

(dan Dia menciptakan) sungai-sungai dan jalan-jalan
agar kamu mendapat petunjuk (QS 16:15)


Bencana datang
Rutinitas pergantian tahun yang dahulu semarak dengan pesta pergantian tahun dan count down party, belakangan pesta itu selalu diiringi oleh tangis duka bangsa karena bencana alam dimana mana. Rutinitas gempa, gejolak gunung berapi, luapan air sungai dan laut tidak putus menghias media massa. Bengawan solo yang tenang dinyanyikan sosok gesang, kini ikut bersuara lantang menerjang sampah-sampah yang selalu dilemparkan kepadanya.

Kerugian sektor pertanian saja sementara per 5 januari 2008 akibat bencana dalam beberapa hari, mampu menyapu 13.000 hektar sawah dengan kerugian sementara ditaksir sekitar Rp. 470,- miliar, sementara 62 ruas jalan dan 213 jembatan rusak.

Dampak kejadian tersebut seakan menantang para pejabat yang pada saat yang sama mentargetkan inflasi tahun 2008 sekitar 5% tetapi dengan plus minus 1%., jadi antara 4% sampai dengan 6%. Inflasi akhir tahun 2007 mencapai 6,59% lebih baik dari tahun lalu dengan angka tipis 6,60%. (Angka yang runtun dan cantik?)

Inflasi
Inflasi (lawannya deflasi) merupakan kondisi yang menunjukkan kenaikan harga secara umum (banyak barang dan jasa) selama periode tertentu (misalnya satu bulan atau satu tahun). Perhitungan yang paling poluler digunakan dan sering didengar publik adalah menggunakan Indeks Harga Konsumen (IHK). Artinya harga yang digunakan adalah harga di tingkat eceran atau konsumen.

Pencatatan sejak Januari 2004 oleh BPS, dilakukan terhadap pergerakan harga-harga barang dan jasa “hanya” di 45 kota, barang dan jasa dibedakan menjadi 7 jenis dengan total komoditas sebanyak 744 komoditas. Klasifikasi tersebut adalah: 1. Bahan makanan 2. Makanan jadi, Minuman, Rokok dan Tembakau, 3. Perumahan. 4. Sandang 5. Kesehatan 6. Pendidikan, Rekreasi dan Olah raga 7. Transpor dan Komunikasi.

Tahun dasar yang digunakan sekarang adalah tahun 2002. Artinya jika akhir tahun 2002 angka indeks barang dan jasa yang tercatat sebesar 104.44, maka dianggap sama dengan 100. kalau pada tahun 2003 angka indeks menjadi 109.83, maka terjadi inflasi sebesar 5.16% pada akhir tahun 2003 jika dibandingkan akhir tahun 2002 (terjadi kenaikan indeks harga dari 104.44 menjadi 109.83).

Test case inflasi
Fenomena bencana alam banjir yang melanda Jawa Tengah dan Jawa Timur terutama sepanjang bengawan solo menjadi sebuah test case, apakah akan tercatat dan memicu inflasi? Kita akan tunggu kehandalan pencatatan dari badan pemerintah setidaknya dengan mencermati catatan inflasi bulan Januari, Februari dan Maret 2008 nanti.

Apakah ”kerajang” barang dan jasa yang digunakan pemerintah yang untuk mencatat sumber ”aktivitas inflasi” mampu menangkap fenomena tersebut? Sementara kota yang dipakai untuk mewakili inflasi di Jawa Tengah, hanya kota Cirebon, Purwokerto, Surakarta, Semarang dan Tegal, sedangkan Jawa Timur hanya diwakili oleh kota Jember, Kediri, Malang dan Surabaya. Sedangkan kenaikan harga yang dirasakan masyarakat di Wonogiri, Karanganyar, Sragen, Ngawi, Madiun, Blora, Bojonegoro, Tuban dan Gresik, potretnya diwakili oleh orang lain.

Rabu, Januari 02, 2008

Refleksi 2007

…dan hendaklah setiap diri memperhatikan
apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok ….

(QS. 59:18)

Apapun sistem dan perencanaan ekonomi yang dianut oleh suatu negara, baik market economy (Capitalism, market socialism), mixed economy, planned economy, traditional economy maupun parcipatory economics, tujuan ekonomi ideal yang ingin dicapainya adalah sama. Kondisi tersebut menurut grossman adalah kondisi ekonomi yang melimpah, adanya pemerataan dan keadilan, mengalami pertumbuhan, stabilitas ekonomi terjaga, kemerdekaan ekonomi, kedaulatan ekonomi, keamanan, perlindungan lingkungan, efisiensi, pengamalan dan perlindungan nilai-nilai dan keyakinan.

Untuk mencapainya tentunya tidak mudah. Kondisi perekonomian suatu negara pada saat ini adalah akibat dari akumulasi kebijakan negara tersebut dan kemampuannya beradaptasi dengan gejolak perekonomian dunia. Demikian juga dengan potret perekonomian Indonesia tahun 2007.

Dengan berbekal sumber daya manusia sekitar 230 juta penduduk (222,2 juta tahun 2006), tahun 2007 ekonomi tumbuh 6,3 %, artinya jika dibandingkan dengan tahun sebelumnya GDP atau The total market value of all final goods and services produced within a given period, by factors of production located within a country (Case&Fair), naik 6,3%, jika digunakan harga patokan tahun 2000.

Kenaikan harga secara umum, komoditas-komoditas terpilih yang diukur dari 45 kota saja yang ada di Indonesia, menunjukkan bahwa dibandingkan dengan tahun sebelumnya terjadi kenaikan 6,71% (sampai bulan Nopember 2007). Artinya harga-harga mengalami kenaikan, dan berarti sebagai seorang konsumen atau yang berbelanja, kehilangan daya beli sebesar angka tersebut. Dari perhitungan, percepatan inflasi tahun 1996 sampai tahun 2006 ternyata lebih cepat daripada laju inflasi tahun 1990 sampai dengan tahun 1997, jika ditinjau dari perkembangan inflasi dan GDP. Artinya harga-harga lebih cepat naik pasca 1996 daripada sebelumnya.

Nilai tukar kita terhadap dolar Amerika berada pada posisi 9.407 perdolar Amerika, masih dalam kisaran yang ”terantisipasi” oleh pemerintah. Tetapi hal tersebut dapat berubah cepat karena tergantung dari faktor eksternal seperti ekses likuiditas pasar keuangan global, suku bunga global dan pertumbuhan ekonomi negara-negara utama dunia, selain tergantung juga dari faktor dalam negeri seperti stabilitas makroekonomi, imbal hasil rupiah serta cadangan devisa yang dimiliki. Akibatnyapun bagi eksportir dan importir berbeda, jika rupiah menguat baik bagi importir, jika melemah membuka peluang eksportir untuk mendapatkan dolar lebih banyak (tentunya hanya beberapa waktu).

Lembaga keuangan perbankan yang diharapkan menjadi intermediary institution bagi perekonomian, menunjukkan peningkatan kredit dari seluruh bank umum yang ada dengan pertumbuhan didominasi oleh kredit konsumsi, meskipun pangsa terbesarnya adalah kredit modal kerja. Upaya pemerintah menurunkan BI rate menjadi 8% yang diikuti dengan penurunan suku bunga Sertifikat Bank Indonesia (SBI), harusnya menjadi pemicu dan berpotensi bagi perbankan untuk berani menyalurkan kredit dan pembiayaan kepada masyarakat. Dari total dana masyarakat yang dihimpun perbankan nasional mencapai Rp. 1.419 triliun (Oktober 2007), ternyata hanya mampu disalurkan sebagai kredit sebesar Rp. 937 triliun, berarti masih ada Rp. 482 triliun yang tidak disalurkan kembali kepada masyarakat di sektor riil, tetapi ditempatkan antara lain untuk membeli SBI.

Perbankan syariah saat inipun hanya diliirik oleh 2,6 juta nasabah. Proses sosialisasi harus terus dilakukan sehingga total aset perbankan syariah (Rp. 31,8 triliun) dapat meningkat, yang saat ini baru mencapai 1,72% dari total aset perbankan nasional (Rp. 1.850 triliun). Dengan besarnya aset diharapkan nantinya mampu memperbesar peluang bank syariah menyalurkan pembiayaan kepada masyarakat. Saat ini Financing to Deposit Ratio (FDR) atau perbandingan pembiayaan dengan pengumpulan dana dari masyarakat, bank syariah mencapai 102,65%, artinya penyaluran dananya di atas 100% dari dana yang berhasil dihimpun oleh bank, jauh lebih baik daripada yang dilakukan bank konvensional dari sisi fungsi intermediasi.

Beberapa hambatan perekonomian dalam negeri yang harus diatasi adalah kemiskinan dan penganguran yang sangat tinggi mesipun pertumbuhan ekonomi naik sesuai target pemerintah. Penduduk miskin di Indonesia masih berkisar 39,3 juta orang atau sekitar 17,75% dengan menggunakan garis kemiskinan Rp/Kapita(orang)/Bulan 151.997,- , angka tersebut dapat berubah jika digunakan indikator yang lain seperti USD 1/kapita/hari dan bahkan melambung tingi jika digunakan indikator bank dunia lainnya yaitu USD 2/kapita/hari. Kebutuhan hidup minimum perbulan pekerja tercatat rata-rata Rp. 719.834,- sedangkan Upah minimum propinsi tercatat rata-rata Rp. 602.702,-. Di sektor tenaga kerja, pengangguran terbuka mencapai 10,28% dari angkatan kerja yang ada. Angka setengah pengangguran (Orang yang bekerja di bawah 35 jam/minggu) mencapai 29,1% atau sekitar 29,1 juta penduduk, dan dari jumlah tersebut yang masih mencari pekerjaan lain atau yang masih menerima pekerjaan lain sebesar 15,32 juta orang.

Dari gambaran tersebut tentunya yang harus dikaji adalah pertumbuhan ekonomi yang belum sejalan dengan sektor tenaga kerja dan lamban mengatasi pengangguran dan kemiskinan. Sumber pertumbuhan ekonomi secara sektoral ternyata didominasi oleh sektor jasa (non-tradable) yang memilki penyerapan tenaga kerja lebih kecil dari pada sektor primer, apalagi mayoritas pengangguran didominasi oleh less educated, bahkan pendidikan kurang dari sekolah dasar masih berkisar 30% demikian pula dengan lulusan SLTP.

Kebijakan sektor riil berupa kebijakan perbaikan investasi swasta dengan memangkas birokrasi, biaya administrasi dan melakukan harmonisasi kebijakan dengan daerah, serta insentif perpajakan bagi dunia usaha harus dilaksanakan.
Selain itu komitmen pemerintah dengan percepatan pembangunan infrastruktur juga mutlak harus dilaksanakan.

Jika ditinjau dari pencapaian pembangunan Indonesia dibandingkan dengan negara lain, juga masih memprihatinkan. Indek pembangunan manusia atau HDI (Human Development Index) yang mengukur pencapaian tiga dimensi pokok pembangunan manusia, yaitu dimensi kesehatan, pendidikan, dan standar hidup layak secara rata-rata. Dimensi kesehatan diukur berdasarkan indeks harapan hidup, dimensi pendidikan diukur berdasarkan angka melek huruf dan rasio anak usia sekolah yang bersekolah. Standar hidup layak diukur berdasarkan nilai GDP per kapita. Indonesia tahun 2007/2008 berada pada posisi 107 dunia.
Kalau dibandingkan dengan negara lain di kawasan ASEAN maka posisi Indonesia jauh di bawah Singapura (25), Brunai (30), Malaysia (63), Thailand (78), dan Philipina (90). Bahkan Indonesia berada di bawah Vietnam (105), sebuah negara yang berada di bawah rejim komunis dan lebih muda kemerdekaannya.

Pesta olah raga asia tenggara Sea Games XXIV Nakohn Ratchasima Thailand yang menempatkan Indonesia pada urutan keempat di bawah Thailand, Malaysia dan Vietnam dalam perolehan medali, harus semakin menjadi penyadaran bagi sebuah bangsa yang tidak dikelola dengan baik. Static Advantage yang dimiliki Indonesia berupa sumberdaya alam dan sumberdaya manusia belum mampu dikelola menjadi comparative advantage bahkan competitif advantage sebagai bekal untuk bersaing dan bersanding dengan bangsa-bangsa maju sehingga idealisme ekonomi grossman dapat terwujud segera.

Semoga tahun 2008, perekonomian Indonesia menjadi lebih baik, tidak menjadi bangsa yang merugi apalagi bangsa yang celaka karena tidak memanfaatkan dan mengelola karunia ekonomi bangsa ini dengan baik.