Minggu, April 06, 2008

Uang dan Bank Umum (Dari mana, kemana)

Fungsi perbankan
Terdapat empat fungsi utama jasa keuangan terutama bank bagi perekono
mian. Pertama adalah menyediakan uang (a medium of exchange, a store of value, a unit of account to measure the value of the transactions). Kedua adalah sebagai intermediasi keuangan. Ketiga sebagai penyedia sarana pemindah dan pendistribusian resiko dalam perekonomian. Keempat sebagai salah bagian dari dari instrumen kebijakan penstabil perekonomian (Perkins et al). Aktifitas intermediasi keuangan yang dapat kita baca adalah kemampuan perbankan dalam memobilisasi dana masyarakat dan menyalurkannya kembali kepada masyarakat dalam bentuk pembiayaan atau kredit.

Aktifitas mobilisasi dan penyaluran pembiayaan atau kredit menjadi lebih lebih menarik jika dapat dibaca dari aspek yang lain yaitu aspek spasial. Dengan membaca aktifitas dari mana penghimpunan dana dan kemana penyaluran dana berdasarkan daerah tingkat I yang ada di Indonesia, maka diharapkan dapat dikaji lebih jauh kemampuan perbankan menggerakkan perekonomian suatu daerah.

Deskripsi
Selama 6 tahun terakhir, pergerakan (posisi akhir tahun) penghimpunan dan penyaluran dana bank umum secara nasional dapat dilihat pada gambar di bawah ini. Dalam gambar tersebut juga ditampilkan LDR (Loan to Deposit Ratio) secara spasial. LDR spasial dalam tulisan ini adlah rasio penyaluran dana terhadap penghimpunan dana Bank Umum berdasarkan daerah tingkat I.

Jika penghimpunan dana dan penyaluran dana bank umum di Indonesia diklasifikasikan berdasarkan Daerah Tingkat I di Indonesia, maka terdapat 10 daerah yang memiliki kontribusi terbesar. Kontribusi masing-masing propinsi tersebut, berdasarkan urutannya, dapat dibaca pada tabel di bawah ini:

Dari tabel tersebut di atas tampak bahwa 10 besar sudah memberikan kontribusi di atas 85%. Bahkan jika hanya digunakan 3 besar saja, maka tiga propinsi yaitu: DKI, Jabar dan Jatim sudah berkontribusi di atas 60% terhadap nasional (pada akhir tahun 2007).

LDR Spasial
Meskipun kemampuan penghimpunan dana propinsi tertentu cukup banyak. Jika dirasiokan dengan penyalurannya di daerah tersebut, ternyata tidak semua daerah memiliki LDR spasial yang tinggi. LDR spasial yang tinggi diartikan daerah tersebut menunjukkan aktifitas penyaluran dana yang tinggi (menggerakkan perekonomian). Dari urutan 10 tertinggi baik pada penghimpunan dana maupun penyaluran dana, hanya terdapat 2 daerah saja yang tetap menjadi 10 urutan teratas dalam LDR spasialnya yaitu Jawa Barat dan Jawa Tengah.


Dari tabel di atas tampak bahwa Jawa Barat berada di peringkat 4, sedangkan Jawa Tengah berada pada posisi 10. Lima daerah bahkan memiliki angka di atas 100%. Artinya aktifitas kredit atau pembiayaan kelima daerah tersebut melebihi aktifitas penghimpunan dananya. Fenomena menarik adalah DKI Jakarta yang memiliki kemampuan penghimpunan dan penyaluran tertinggi dalam besarannya, ternyata jika digunakan rasio (LDR) tersebut hanya berada pada urutan ke -25.

Empat diagram
Fenomena DKI jika diklasifikasikan dalam 4 diagram berikut, maka DKI berada pada daerah diagram 3. Artinya Peringkat Penghimpunan dan Penyaluran dananya tinggi (Ur
utan 1-10), tetapi memiliki urutan LDR Spasial terendah (Urutan 21-30).

Dari 4 diagram di atas, tampak bahwa aktifitas Bank Umum yang melibatkan propinsi Jawa Barat dan Jawa Tengah, dapat diartikan “sangat baik” karena dari besarannya memadai, dari rasionyapun sangat agresif. Sedangkan di propinsi NTB dan Bengkulu meskipun rasionya agresif tetapi besarannya kurang “memadai” relatif terhadap keseluruhan Dati I yang ada.

DKI dengan besarannya (ter) tinggi tetapi rasionya tidak agresif. Hal tersebut dapat diinterpretasikan bahwa terjadi stagnasi pembiayaan di DKI. Sedangkan Bangka Belitung, Maluku dan Maluku Utara ternyata selain magnitude nya rendah rasio agresifitas pembiayaannya juga sangat rendah. Tentunya perlu di tinjau kembali kebijakan ekonomi di daerah-daerah yang “bermasalah” tersebut. Semoga bermanfaat.

2 komentar:

Harrie mengatakan...

Kalo melihat angka LDR yang cukup tinggi disebagian besar Propinsi mestinya secara umum bisa dikatakan bahwa bahwa fungsi intermediasi bank sudah berjalan dengan baik. Tapi ada juga yang bilang bahwa proyek diberbagai Pemda mengalami kendala karena banyak yang takut menjadi Pimpro karena rawan jadi tersangka. Akibatnya duit Pemda banyak diparkir di SBI.
Saya tidak tahu apakah Dana Bank yang masuk ke SBI masih dikategorikan sebagain Loan. Jika SBI masih menjadi bagian dari Loan, maka rasio LDR tersebut masih bias.

Ris yuwono mengatakan...

"Modifikasi" LDR secara spasial Dati I, yang saya gunakan adalah rasio antara: Kredit (rupiah dan valuta asing) berdasarkan lokasi proyek yang dibiayai dengan penghimpunan dana (rupiah dan valas asing) pada bank umum berdasarkan lokasi bank penghimpun dana.(Data dari website BI).Setahu saya dalam rumus LDR perbankan tidak memasukkan SBI sebagai komponen loan, dan justru wacananya LDR versi baru akan memasukkan obligasi korporasi sebagai komponen loan. SBI tersebut dapat digeser penempatannya pada obligasi korporasi sehingga LDR menjadi lebih tinggi.